Tiga Pokok Kebahagiaan
Abu Mushlih Ari Wahyudi
Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,
“Ada tiga pokok yang menjadi pondasi
kebahagiaan seorang hamba, dan masing-masingnya memiliki lawan. Barangsiapa
yang kehilangan pokok tersebut maka dia akan terjerumus ke dalam lawannya. [1] Tauhid,
lawannya syirik. [2] Sunnah, lawannya bid’ah. Dan [3] ketaatan,
lawannya adalah maksiat. Sedangkan ketiga hal ini memiliki satu musuh yang
sama yaitu kekosongan hati dari rasa harap di jalan [ketaatan kepada] Allah dan
keinginan untuk mencapai balasan yang ada di sisi-Nya serta ketiadaan rasa
takut terhadap-Nya dan hukuman yang dijanjikan di sisi-Nya.” ( al-Fawa’id, hal. 104)
Tauhid Mengantarkan Menuju Bahagia
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “ Orang-orang yang beriman dan tidak
mencampuri iman mereka dengan kezaliman/syirik, mereka itulah yang akan
mendapatkan keamanan dan mereka itulah orang-orang yang diberikan petunjuk.”
(QS. al-An’aam: 82). Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan neraka
atas orang yang mengucapkan la ilaha illallah dengan ikhlas mengharapkan wajah
Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim). Abdullah Ibnu Mubarak rahimahullah berkata,
“Betapa banyak amalan kecil menjadi besar karena niat (yang ikhlas), dan betapa
banyak amalan besar menjadi kecil karena niat (yang tidak ikhlas).”
Syirik
Mengantarkan Menuju Sengsara
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya barangsiapa
yang mempersekutukan Allah maka sungguh Allah haramkan atasnya surga dan tempat
tinggalnya adalah neraka, dan tiada seorang penolongpun bagi orang-orang yang
zalim itu.” (QS. al-Maa’idah: 72). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
bersabda, “Barangsiapa yang berjumpa dengan Allah dalam keadaan mempersekutukan
Allah dengan sesuatu apapun maka dia pasti masuk neraka.” (HR. Muslim).
Sunnah Mengantarkan Menuju Bahagia
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Katakanlah (Muhammad); Jika
kalian mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian
dan mengampuni dosa-dosa kalian.” (QS. Ali Imran: 31). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda, “Islam itu datang dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi
asing sebagaimana datangnya, maka beruntunglah orang-orang yang asing.” (HR.
Muslim). Imam Malik rahimahullah berkata, “Sunnah adalah [laksana] bahtera Nabi
Nuh, barangsiapa yang menaikinya akan selamat, dan barangsiapa yang tertinggal
akan tenggelam.”
Bid’ah Mengantarkan Menuju Sengsara
Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Barangsiapa yang menentang
rasul setelah jelas baginya petunjuk dan dia justru mengikuti selain jalan
orang-orang beriman, niscaya akan Kami biarkan dia terombang-ambing dalam
kesesatannya dan Kami pun akan memasukkannya ke dalam Jahannam, dan
sesungguhnya Jahannam itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. an-Nisaa’:
115). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sejelek-jelek urusan
adalah yang diada-adakan -dalam agama-, [dan setiap yang diada-adakan itu
adalah bid'ah] dan setiap bid’ah pasti sesat [dan setiap kesesatan di neraka].”
(HR. Muslim,
tambahan dalam kurung dalam riwayat Nasa’i)
Ketaatan Mengantarkan Menuju Bahagia
Allah ta’ala berfirman (yang artinya),
“Barangsiapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya sungguh dia akan mendapatkan
keberuntungan yang sangat besar.” (QS. al-Ahzab: 71). Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Semua umatku pasti masuk surga, kecuali yang
enggan.” Para sahabat pun bertanya, “Siapakah orang yang enggan itu wahai
Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Barangsiapa mentaatiku masuk surga dan
barangsiapa yang mendurhakaiku maka dialah orang yang enggan itu.” (HR.
Bukhari). Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma berkata, “Allah menjamin bagi siapa
saja yang membaca al-Qur’an dan mengamalkan ajaran yang ada di dalamnya bahwa
dia tidak akan sesat di dunia dan tidak akan celaka di akherat.”
Kemaksiatan Mengantarkan Menuju Sengsara
Allah ta’ala berfirman (yang artinya),
“Barangsiapa yang durhaka kepada Allah dan rasul-Nya sungguh dia telah tersesat
dengan kesesatan yang amat nyata.” (QS. al-Ahzab: 36). Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam bersabda, “Surga diliputi dengan perkara-perkara yang tidak
disenangi nafsu (ketaatan) sedangkan neraka diliputi dengan perkara-perkara
yang disenangi nafsu (kemaksiatan).” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hilangnya Harapan dan Rasa Takut
Sementara ketiga hal di atas -tauhid,
sunnah, dan ketaatan- memiliki satu musuh yang sama yaitu ketiadaan rasa harap
dan rasa takut. Yaitu ketika seorang hamba tidak lagi menaruh harapan atas apa
yang Allah janjikan dan tidak menyimpan rasa takut terhadap ancaman yang Allah
berikan. Akibat ketiadaan harap dan takut ini maka timbul berbagai dampak yang
membahayakan. Di antara dampaknya adalah; [1] terlena dengan curahan nikmat
sehingga lalai dari mensyukurinya, [2] sibuk mengumpulkan ilmu namun lalai dari
mengamalkannya, [3] cepat terseret dalam dosa namun lambat dalam bertaubat, [4]
terlena dengan persahabatan dengan orang-orang saleh namun lalai dari
meneladani mereka, [5] dunia pergi meninggalkan mereka namun mereka justru
senantiasa mengejarnya, [6] akherat datang menghampiri mereka namun mereka
justru tidak bersiap-siap untuk menyambutnya. Ibnul Qayyim rahimahullah
menerangkan bahwa ketiadaan rasa harap dan takut ini bersumber dari lemahnya
keyakinan. Lemahnya keyakinan itu timbul akibat lemahnya bashirah/pemahaman.
Dan lemahnya bashirah itu sendiri timbul karena jiwa yang kerdil dan rendah
(lihat al-Fawa’id, hal. 170).
Bersihkan Jiwamu!
Jiwa yang kerdil dan rendah akan merasa
puas dengan perkara-perkara yang hina, sementara jiwa yang besar dan mulia
tentu hanya akan puas dengan perkara-perkara yang mulia (lihat al-Fawa’id, hal.
170). Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh berbahagia orang yang
menyucikan jiwanya dan sungguh merugi orang yang mengotorinya.” (QS. asy-Syams:
9-10). Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Yaitu orang yang menyucikan
jiwanya dari dosa-dosa dan membersihkannya dari aib-aib, lalu dia
meninggikannnya dengan ketaatan kepada Allah serta memuliakannya dengan ilmu
yang bermanfaat dan amal saleh.” (Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 926). Syaikh
Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata, “Yang dimaksud penyucian di sini ialah dia
menyucikan dirinya dengan cara membebaskannya dari syirik dan noda-noda
maksiat, sehingga jiwanya menjadi suci dan bersih.” (Tafsir Juz ‘Amma, hal.
165)
Dari sinilah, kita menyadari betapa besar
peran ilmu yang diamalkan. Oleh sebab itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam mengajarkan kepada kita untuk senantiasa berdoa seusai sholat Subuh
dengan doa yang sangat indah, Allahumma inni as’aluka ‘ilman nafi’an wa rizqan
thayyiban wa ‘amalan mutaqabbalan. Yang artinya; “Ya Allah, aku memohon
kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezki yang baik, dan amalan yang diterima.”
(HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga
bersabda, “Barangsiapa yang dikehendaki baik oleh Allah niscaya akan dipahamkan
dalam urusan agamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Sedangkan ilmu dan pemahaman
seorang hamba tentang agamanya diukur dengan rasa takutnya kepada Allah. Allah
ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya yang merasa takut kepada Allah
di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu.” (QS. Fathir: 28).
Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata, “Cukuplah rasa takut kepada Allah
sebagai bukti ilmu -seseorang-.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar