Berpikir dan Bertindak Demi Hari Esok
Arda Dinata
Jika Anda lebih menginginkan keberhasilan, Anda dapat
memilikinya. Masa depan Anda dapat menjadi lebih cerah daripada semua yang Anda
inginkan. Karena cara berpikir Anda mencerminkan cara Anda bertindak. Dan cara
Anda bertindak menentukan bagaimana masa depan yang akan terbentang di depan
Anda.
(Vernon Howard).
Pada suatu hari Bahlul sedang berjalan-jalan di sebuah
jalan di kota Basrah. Tiba-tiba, ia melihat anak-anak tengah bermain dengan
buah kemiri dan pala. Namun, di sana ada seorang anak yang hanya menonton
teman-temannya sambil menangis. Bahlul menghampirinya dan berkata dalam hati,
"Anak ini bersedih karena tidak memiliki mainan seperti yang dimiliki oleh
anak-anak yang lain." Kemudian Bahlul berkata kepadanya, "Anakku,
mengapa kamu menangis? Maukah aku belikan buah kemiri dan pala, sehingga kamu
dapat bermain dengan teman-temanmu?"
Anak itu menatap Bahlul, lalu menjawab: "Hai
orang yang kurang cerdas, kita diciptakan bukan untuk bermain-main."
"Lalu untuk apa kita diciptakan?" tanya Bahlul.
Anak kecil itu menjawab, "Untuk belajar dan
beribadah." Bahlul bertanya lagi, "Dari mana kamu memperoleh jawaban
itu? Kiranya Allah memberkatimu". Dia menjawab, "Dari firman Allah dalam QS Al-Mu'minun ayat 116,
Apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakanmu untuk bermain-main
dan bahwa sesungguhnya kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?"
Kisah antara Bahlul dan seorang anak itu, memberikan
pelajaran bagi siapa pun. Bahwa manusia diciptakan untuk belajar dan beribadah.
Demikian pula halnya dengan kehidupan berkeluarga. Kita tentu semata-mata harus
membangunnya di atas dasar koridor belajar dan beribadah kepada Allah.
Betul, kalau setiap anak itu butuh bermain dalam
hidupnya. Namun, tentu bermain yang mengandung dan mengarahkan si anak kepada
proses belajar membangun aktivitas beribadah kepada Allah SWT. Apalagi, saat
ini di sekitar kita begitu banyak tersebar aneka fasilitas dan informasi
bermain yang ditawarkan pada anak-anak. Yang kadangkala kalau orang tua tidak
hati-hati, permainan itu tidak islami dan bisa merusak akidah anak kita.
Di sinilah, barangkali perlunya peran serta dan
kemampuan pola kebijakan orang tua dalam memilih teman bermain anak-anaknya.
Dan sebenarnya, inti dari belajar itu adalah berpikir dan bertindak. Bukankah,
perilaku yang diperbuat oleh tiap manusia, semata-mata diawali dari sebuah niat
dan pola pikir dalam hati dan akalnya. Untuk itu, tiap orang tua dituntut agar
niat dan akal anak-anaknya harus ditata dan dibina dengan baik agar melahirkan
perbuatan yang dapat menjadi bekal dan penyelamat dalam menyongsong masa
depannya.
Jadi, berpikir dan bertindak ini jelas-jelas akan
menjadi kunci keberhasilan dari apa-apa yang kita inginkan, termasuk dalam
pembentukan keluarga sakinah. Dalam hal ini, Vernon Howard mengungkapkan, jika
Anda lebih menginginkan keberhasilan, Anda dapat memilikinya. Masa depan Anda
dapat menjadi lebih cerah daripada semua yang Anda inginkan. Karena cara
berpikir Anda mencerminkan cara Anda bertindak. Dan cara Anda bertindak
menentukan bagaimana masa depan yang akan terbentang di depan Anda.
Untuk itu, bangunlah setiap saat pola pikir dan
tindakan anak-anak kita sesuai etika dan perilaku islami. Karena menurut John
Kehoe, melalui pengulangan, pikiran menjadi terpusat dan terarah serta
kemampuannya dapat berlipat ganda setiap saat. Semakin sering diulang, semakin
banyak tenaga dan kekuatan yang terkumpul dan semakin siap untuk diwujudkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar