Bersemangat
dalam Hidup
KH Abdullah
Gymnastiar
Semoga Allah yang Menggenggam langit
dan bumi, membuka pintu hati kita semua agar dapat memahami hikmah di balik
kejadian apapun yang menimpa. Dan, semoga Allah membimbing kita untuk bisa
menyikapi kejadian apapun dengan sikap terbaik kita.
Saudaraku, yang mahal dalam
hidup ini adalah semangat dan kemampuan untuk mempertahankan semangat tersebut.
Kita tidak akan pernah meraih apapun yang dalam hidup ini tanpa adanya
semangat. Bahkan, kita pantas melupakan kesuksesan kalau kita tidak memiliki
semangat.
Rahasia seorang pemimpin,
rahasia seorang entrepreneur, dan seorang yang sukses adalah kemampuannya untuk
selalu bersemangat dan mampu menularkannya pada orang lain. Dengan semangat
yang menggebu, seseorang akan memiliki kemampuan untuk membaca peluang lebih
banyak dibanding orang yang tidak bersemangat. Kalau orang sudah bersemangat
dalam hidup, maka ia akan mampu berbuat lebih banyak. Dan, semangat itulah yang
bisa menggerakkan. Seseorang rela berhujan-hujanan pergi ke pengajian. Apa
sebabnya? Ia bersemangat mencari ilmu. Seorang pemuda rela pergi malam-malam ke
rumah kekasihnya. Apa sebabnya? Ia bersemangat untuk bertemu dengan si dia.
Maka pertanyaan yang layak
kita kemukakan adalah: bagaimana agar kita selalu bersemangat dalam hidup?
Semangat akan tumbuh bila ada harapan. Setiap ada harapan, maka di sanalah ada
semangat. Sebagai ilustrasi, ada seseorang terjebak dalam gua yang gelap.
Badannya sudah lemah dan harapannya sudah hampir habis. Ketika itu ia melihat
setitik cahaya dan terpaan semilir angin. Apa yang terjadi pada orang tersebut?
Sudah dapat ditebak, semangatnya akan bangkit kembali. Ia menyangka bahwa di
sekitarnya pasti ada lubang, dan ia pun akan berjuang untuk mencari lubang
angin dan cahaya tersebut. Termasuk dalam bab cinta. Kita akan bersemangat
mencintai seseorang, tatkala ada harapan untuk mendapatkannya.
Dari mana harapan itu datang?
Ternyata, harapan tidak timbul dengan sendirinya. Harapan timbul dari input
(informasi) yang kita dapatkan. Artinya, orang yang akan selalu bersemangat adalah
orang yang memiliki kebiasaan (tradisi) mengumpulkan dan menghimpun informasi.
Maka, kalau kita ingin menjadi orang yang selalu bersemangat dalam hidup, maka
kita jangan pernah berhenti menghimpun informasi. Berhenti mencari informasi,
harapan berkurang, maka semanagat pun pasti berkurang. Lalu, input atau
informasi seperti apa yang harus kita dapatkan? Tentu input yang dapat
dipertanggungjawabkan dan memenuhi standar BAL (benar, akurat, dan lengkap).
Sebuah keputusan yang tepat
biasanya diawali dengan adanya tradisi pengumpulan informasi yang BAL. Kalau
kita memiliki tradisi ini, kita akan semakin bersemangat dan memiliki peluang
besar untuk menghasilkan keputusan yang tepat dalam hidup. Inilah modal yang
paling mahal dari seorang yang ingin sukses dalam hidupnya.
Kalau kita menelaah Alquran,
kata iqra sebagai kata pertama dari Alquran yang diturunkan pada Rasulullah SAW
maknanya tidak sekadar membaca, tapi juga menghimpun informasi. Karena itu,
tradisi mengumpulkan informasi jauh-jauh hari sudah diperintahkan Allah SWT.
Masalahnya, tradisi
menghimpun informasi ini belum menjadi keseharian kita. Kebanyakan, hari-hari
kita berlalu begitu saja tanpa ada manfaat. Kalaupun ada informasi yang masuk,
mekanisme kita sering salah, serampangan, dan tidak dipilah-pilah. Karena itu,
yang timbul adalah semangat emosi bukan semangat solusi. Jadi, kita harus mulai
mengubah cara berpikir atau paradigma tentang informasi. Uang yang kita gunakan
untuk menghimpun informasi bukan sebuah pengeluaran, tapi investasi.
Marilah kita iqra, punya
tradisi, perangkat, uang untuk selalu bergerak berdasarkan informasi yang BAL
agar tindakan kita benar-benar akurat. Kalau kita kaya dengan informasi,
otomatis kita akan kaya dengan harapan, kaya dengan semangat, dan tindakan kita
akan selalu tepat dan akurat. Pergi ke mana saja kita harus menjadi penghimpun
informasi.
Artinya, bercita-cita apapun
kita, pertanyaannya, sejauh mana kita gemar terhadap informasi yang BAL?
Informasi bisa lewat buku, media cetak, televisi, internet, atau seorang guru.
Karena itu, kalau kita berjumpa dengan seseorang, maka usahakan perjumpaan
tersebut bisa menambah input yang benar bagi kita. Lihat pemilu, seharusnya
mampu mendatangkan input bagi peningkatan kualitas diri kita. Intinya, dalam
kondisi apapun jadikanlah kita penampung informasi yang Bebar Akurat danLengkap.
Bila ini yang terjadi, insya Allah hidup akan terasa lebih mudah. Wallahu a'lam
bish-shawab. KH Abdullah Gymnastiar.
Lupakan Pujian
dan Angka-angka
Asro Kamal Rokan
Seorang teman, pemimpin sebuah perusahaan
yang sukses, merasa galau. Tapi ia tidak tahu penyebabnya. Belakangan ini, ia
gampang tersinggung. Ketika beberapa karyawan berkumpul, ia merasa mereka
sedang memperbincangkan dirinya. Ketika mereka tertawa, ia merasa mereka
menertawakan dirinya dan menjadikannya bahan lelucon.
Kebiasaannya membuka e-mail, membaca
kesan-kesan lucu atau artikel mengandung hikmah yang dikirim teman-temannya,
kini sudah ditinggalkannya. Padahal dahulu, begitu tiba di kantor, tugas pertamanya
justeru membuka e-mail dan membalas cerita-cerita lucu dari teman-temannya.
Bahkan, terkadang dia sendiri yang mengirim artikel-artikel ke teman-temannya.
Teman itu seakan kehilangan dirinya namun
dia tidak paham apa yang terjadi pada dirinya. Ruang kerjanya juga sepi dari
lagu-lagu cinta Everly Brothers, yang selama ini selalu diputar di komputernya.
Permintaan berteman di Facebook, tidak lagi dipedulikannya. Dia tak mau
terhubung dengan teman-temannya, karena dia kecewa seorang sahabat mengirim
potongan puisi Jalaluddin Rumi:
Mari kita tinggalkan kekanak-kanakkan
dan menuju ke kelompok Manusia.
Sahabat yang mengirim catatan di facebook
itu, sesungguhnya tidak bermaksud menyindirnya dan tidak pernah tahu situasi
hati sahabatnya itu saat ini. Namun dia merasa tersindir dan karena itu dia
marah sekali. Dia membalas catatan itu: Apa kamu pikir saya kekanak-kanakkan
dan bukan manusia?!
Bukan puisi Rumi itu yang membuatnya marah,
melainkan hatinya sedang galau dan merasa serba salah. Dalam situasi seperti
itu, kata-kata bijak pun bisa dianggap sebagai penghinaan. Senyum tulus
dianggap sebagai ejekan. Sebaliknya, racun yang disajikan dengan cawan pujian,
bisa dianggap sebagai hadiah tak terkira. Ada saatnya, orang kehilangan
pegangan dan terseret ke tempat yang menurutnya indah, namun sesungguhnya
jebakan. Dan, dia menikmatinya; seperti aktor dalam gemuruh tepuk tangan.
Seorang pemimpin ?di perusahaan, bahkan RT
sekali pun ?ada kalanya terjebak dalam kesepian. Dia merasa telah melakukan
banyak hal untuk kebaikan bersama, banyak prestasi, namun kritik tak pernah
berhenti. Dia merasa telah mencurahkan semua kemampuan, waktu, dan perasaan,
namun tetap saja dianggap tidak cukup.
Pada saat-saat seperti itu ? tekanan
perasaan dan merasa tak diapresiasi? para pemimpin memerlukan air bagi
dahaganya. Air itu adalah pujian. Dia merasa lebih berarti dalam rimbun pujian,
meski itu racun dan memabukkan. Dia lebih suka dan bahkan sangat percaya kepada
orang-orang yang memujinya. Dia kehilangan rasionalitas; dan menganggap orang
yang mengkritik adalah musuh nyata yang harus disingkirkan.
Dia seperti minum air laut, dia haus terus
menerus. Berhentilah meminum air laut pujian, kembalilah ke bumi, dan baca
berkali-kali sampai masuk ke jiwa terdalam: Alhamdulilllah, segala puji hanya
untuk Allah ...., tidak untuk manusia, siapa pun dia.
Wahai sahabat yang kesepian, cawan pujian
itu indah, terbuat dari emas dan permata, tapi di dalamnya racun. Ketika
diteguk, racun itu masuk ke dalam sumsum, memecah semua pergelangan, dada, dan
pikiran. Seindah apapun cawan itu, tidak lagi berarti apa-apa, ketika isinya
kau teguk. Berhentilah melayang karena pujian, turunlah ke bumi nyata.
Percayalah pada kehendak Allah, bukan kepada pawang dan peramal yang hidup dari
gelembung asap yang mudah sekali menguap.
Wahai sahabat, senyum dan sapa kembali
semua teman-temanmu yang tidak pernah minta apa-apa, bukan para penjilat, yang
pandai memotong lidah dan telinga. Tenangkan dirimu, seperti mata bayi yang
teduh dan tak menyimpan sakwasangka. Kini, lupakan angka-angka karena ia
berubah mengikuti sifat dan penghitungnya. Lupakan semua pujian karena ia racun
dalam cawan yang indah. Bacalah sebanyak kau bisa dan masukkan ke dalam jiwamu
sekuat kau bisa: Alhamdulillah ?segala pujian hanya untuk Allah!
Bukan Surga,
Bukan Neraka
By Haikal Abram
Di
sekitar kita, tidak jarang kita melihat orang berkomat-kamit setelah mengikuti
ceramah di surau atau masjid, mengomentari isi ceramah atau khutbah yang isinya
hanya menakut-nakuti jamaah dengan neraka dan menghibur dengan surga. Ceramah
atau khutbah selama ini hanya berputar-putar di sekitar masalah itu saja.
Karena seringnya ceramah yang monoton itu, tidak heran bila ada yang bertanya:
Apakah dalam Islam tidak terdapat ajaran lain yang perlu dikemukakan selain
surga dan neraka? Tujuan hidup pada akhirnya memang ke sana, namun Islam
mengandung ajaran yang lengkap, meliputi segala aspek kehidupan, dunia dan
akhirat.
Di antara sekian ragam ajaran Islam yang
terpenting adalah ajaran tentang bagaimana mencintai Allah. Mencintai Allah
tidak cukup dilakukan hanya dengan menjalankan syariat Islam (fikih), namun
lebih daripada itu, harus pula dengan menyucikan hati (tasawuf). Fikih
memusatkan perhatian pada sah tidaknya suatu amal perbuatan, serta pahala atau hukuman
yang ditimbulkan. Sedangkan tasawuf memusatkan pada gerak-gerik hati dan
kedekatan hubungan dengan Allah.
Berbeda dengan fikih, menjalankan tasawuf
biasanya lebih diliputi dengan berbagai macam ujian, dari yang paling ringan
sampai yang terberat. Yang ringan, misalnya, kesediaan untuk menolong binatang
yang kehausan dengan memberikan air minum atau yang terberat misalnya kerelaan
untuk mengorbankan jiwa dan segala milik kita. Ujian tersebut berfungsi untuk
menempa atau mengukuhkan keimanan, dan selanjutnya menentukan peringkat derajat
(maqom) sang sufi itu. Allah berfirman: Apakah mereka mengira bahwa mereka akan
dibiarkan saja mengatakan 'kami telah beriman' sedang mereka tak diuji? (QS
29:2).
Selain memiliki fungsi peneguhan keimanan,
ujian juga berfungsi sebagai sarana bagi manusia agar tidak terbuai oleh
'kemilau' dunia yang sesungguhnya hanyalah fatamorgana. Orang yang beriman
diingatkan bahwa hakikat kebahagiaan bukanlah kelimpahan nikmat duniawi belaka
melainkan kenikmatan menempuh jalan 'mendaki' menuju Allah untuk suatu
perjumpaan dengan-Nya. Ini secara terminologis disebut tasawuf. Tasawuf adalah
jalan menuju pertemuan dengan Allah, yang substansinya mencintai Allah
(mahabbah ilallah).
Mencintai Allah bukan sesuatu yang
'eksklusif', yang hanya bisa dilakukan oleh alim ulama. Jika ada kemauan, siapa
pun bisa mencintai Allah. Mengapa kita enggan mencintai Allah sedangkan Allah
saja mencintai kita? Allah berfirman: Kasih sayang-Ku meliputi segala sesuatu
(QS 7:15). Allah menempuh berbagai cara dalam menunjukkan kasih sayang-Nya, di
antaranya dengan memberikan teguran-teguran halus ataupun dengan mengaruniai
kenikmatan yang melimpah, sebagaimana dinyatakan oleh sebuah ayat: Jika engkau
hitung nikmat Allah, pastilah engkau tak sanggup menghitungnya (QS 8:29).
Begitu sayang dan pemurah Allah kepada hamba-Nya. Maka, pantaslah kiranya
Rasulullah pernah bersabda: Kamu belum beriman sebelum Allah dan Rasul-Nya
lebih kamu cintai daripada selain keduanya.
Apabila kita sudah sampai pada pemahaman
dan prilaku mencintai Allah sedemikian rupa, maka bukan neraka lagi yang
menakutkan kita dan bukan pula surga yang menjadi impian indah kita.
Pelebur Dosa
Di tengah kerumunan murid-muridnya, seorang
sufi terisak menangis. Ia pedih melihat kenyataan hidup yang mulai semrawut.
Antara halal dan haram mulai berbaur tidak jelas. ''Dosa-dosa sedang merata di
mana-mana, ibarat air hujan yang turun deras dari langit, lalu tumpah di muka
bumi. Tak seorang pun bisa mengelak dari kungkungan dosa-dosa itu, tak
terkecuali orang saleh sekali pun,'' demikian paparnya.
Seorang murid bertanya, ''Lalu apa jalan
keluarnya, wahai Guru?'' ''Perbanyaklah mukaffarat al-dzunub (pelebur dosa)!''
jawab sang guru singkat. Umumnya ulama membagi dosa menjadi dua: dosa besar
(kaba-ir) dan dosa kecil (shaga-ir).
Dosa apapun, besar atau kecil, akan
menumpulkan hati, sehingga pelakunya makin jauh dari sisi Tuhan dan terseret ke
dalam murka-Nya. Memang setiap anak Adam berpotensi pendosa (khattha'). Tetapi
sebaik-baik pendosa adalah yang mau tobat (tawwab). Demikian penjelasan oleh
Nabi SAW.
Allah yang Maha Penyayang telah
membentangkan jalan-jalan bagi penghapusan dosa. Dosa besar -- sepanjang tidak
menyangkut hak-hak sesama manusia -- akan diampuni dengan syarat tobat. Seperti
disabdakan Nabi SAW, ''Andaikan dosa-dosa seseorang menumpuk setinggi langit,
lalu ia bertobat kepada Allah, niscaya akan diterima tobatnya.'' Malaikat
pencatat amal konon dibuat lupa di hadapan Allah akan dosa-dosa orang yang
bertobat.
Nabi Muhammad SAW memberi contoh bagaimana
sebuah tindakan kebaikan dapat mengikis dosa. Beliau bertanya kepada para
sahabatnya, ''Jika ada sungai mengalir di muka rumah, lalu penghuninya mandi
lima kali sehari, masihkah tersisa sedikit kotoran dari tubuhnya?''
Mereka menjawab, ''Tak akan ada sedikit
pun.'' Lalu kata Nabi SAW, ''Pula salat lima waktu dapat menghapus dosa-dosa.''
Sebagaimana salat lima waktu, salat Jumat ke Jumat dan puasa Ramadhan ke
Ramadhan berikutnya, adalah pelebur dosa-dosa yang timbul antara keduanya.
Apalagi bila selama Ramadhan, si hamba meramaikannya dengan salat, tadarus, dan
sedekah.
Dengan lunturnya dosa-dosa itu, sebagai
hasil positif puasa Ramadhan, fajar baru mesti menyingsing. Kita terlahir
kembali sebagai 'manusia baru', yakni makhluk yang telah menghiaskan dirinya
dengan sifat-sifat Tuhan Sang Mahamulia: adil, pemurah, penyayang, penegak
kebenaran, dan seterusnya. ahi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar