Kamis, 03 Juli 2014

Besemangat dalam Hidup



Bersemangat dalam Hidup
KH Abdullah Gymnastiar

            Semoga Allah yang Menggenggam langit dan bumi, membuka pintu hati kita semua agar dapat memahami hikmah di balik kejadian apapun yang menimpa. Dan, semoga Allah membimbing kita untuk bisa menyikapi kejadian apapun dengan sikap terbaik kita.

Saudaraku, yang mahal dalam hidup ini adalah semangat dan kemampuan untuk mempertahankan semangat tersebut. Kita tidak akan pernah meraih apapun yang dalam hidup ini tanpa adanya semangat. Bahkan, kita pantas melupakan kesuksesan kalau kita tidak memiliki semangat.

Rahasia seorang pemimpin, rahasia seorang entrepreneur, dan seorang yang sukses adalah kemampuannya untuk selalu bersemangat dan mampu menularkannya pada orang lain. Dengan semangat yang menggebu, seseorang akan memiliki kemampuan untuk membaca peluang lebih banyak dibanding orang yang tidak bersemangat. Kalau orang sudah bersemangat dalam hidup, maka ia akan mampu berbuat lebih banyak. Dan, semangat itulah yang bisa menggerakkan. Seseorang rela berhujan-hujanan pergi ke pengajian. Apa sebabnya? Ia bersemangat mencari ilmu. Seorang pemuda rela pergi malam-malam ke rumah kekasihnya. Apa sebabnya? Ia bersemangat untuk bertemu dengan si dia.

Maka pertanyaan yang layak kita kemukakan adalah: bagaimana agar kita selalu bersemangat dalam hidup? Semangat akan tumbuh bila ada harapan. Setiap ada harapan, maka di sanalah ada semangat. Sebagai ilustrasi, ada seseorang terjebak dalam gua yang gelap. Badannya sudah lemah dan harapannya sudah hampir habis. Ketika itu ia melihat setitik cahaya dan terpaan semilir angin. Apa yang terjadi pada orang tersebut? Sudah dapat ditebak, semangatnya akan bangkit kembali. Ia menyangka bahwa di sekitarnya pasti ada lubang, dan ia pun akan berjuang untuk mencari lubang angin dan cahaya tersebut. Termasuk dalam bab cinta. Kita akan bersemangat mencintai seseorang, tatkala ada harapan untuk mendapatkannya.

Dari mana harapan itu datang? Ternyata, harapan tidak timbul dengan sendirinya. Harapan timbul dari input (informasi) yang kita dapatkan. Artinya, orang yang akan selalu bersemangat adalah orang yang memiliki kebiasaan (tradisi) mengumpulkan dan menghimpun informasi. Maka, kalau kita ingin menjadi orang yang selalu bersemangat dalam hidup, maka kita jangan pernah berhenti menghimpun informasi. Berhenti mencari informasi, harapan berkurang, maka semanagat pun pasti berkurang. Lalu, input atau informasi seperti apa yang harus kita dapatkan? Tentu input yang dapat dipertanggungjawabkan dan memenuhi standar BAL (benar, akurat, dan lengkap).

Sebuah keputusan yang tepat biasanya diawali dengan adanya tradisi pengumpulan informasi yang BAL. Kalau kita memiliki tradisi ini, kita akan semakin bersemangat dan memiliki peluang besar untuk menghasilkan keputusan yang tepat dalam hidup. Inilah modal yang paling mahal dari seorang yang ingin sukses dalam hidupnya.

Kalau kita menelaah Alquran, kata iqra sebagai kata pertama dari Alquran yang diturunkan pada Rasulullah SAW maknanya tidak sekadar membaca, tapi juga menghimpun informasi. Karena itu, tradisi mengumpulkan informasi jauh-jauh hari sudah diperintahkan Allah SWT.

Masalahnya, tradisi menghimpun informasi ini belum menjadi keseharian kita. Kebanyakan, hari-hari kita berlalu begitu saja tanpa ada manfaat. Kalaupun ada informasi yang masuk, mekanisme kita sering salah, serampangan, dan tidak dipilah-pilah. Karena itu, yang timbul adalah semangat emosi bukan semangat solusi. Jadi, kita harus mulai mengubah cara berpikir atau paradigma tentang informasi. Uang yang kita gunakan untuk menghimpun informasi bukan sebuah pengeluaran, tapi investasi.

Marilah kita iqra, punya tradisi, perangkat, uang untuk selalu bergerak berdasarkan informasi yang BAL agar tindakan kita benar-benar akurat. Kalau kita kaya dengan informasi, otomatis kita akan kaya dengan harapan, kaya dengan semangat, dan tindakan kita akan selalu tepat dan akurat. Pergi ke mana saja kita harus menjadi penghimpun informasi.

Artinya, bercita-cita apapun kita, pertanyaannya, sejauh mana kita gemar terhadap informasi yang BAL? Informasi bisa lewat buku, media cetak, televisi, internet, atau seorang guru. Karena itu, kalau kita berjumpa dengan seseorang, maka usahakan perjumpaan tersebut bisa menambah input yang benar bagi kita. Lihat pemilu, seharusnya mampu mendatangkan input bagi peningkatan kualitas diri kita. Intinya, dalam kondisi apapun jadikanlah kita penampung informasi yang Bebar Akurat danLengkap. Bila ini yang terjadi, insya Allah hidup akan terasa lebih mudah. Wallahu a'lam bish-shawab. KH Abdullah Gymnastiar.





Lupakan Pujian dan Angka-angka
Asro Kamal Rokan

Seorang teman, pemimpin sebuah perusahaan yang sukses, merasa galau. Tapi ia tidak tahu penyebabnya. Belakangan ini, ia gampang tersinggung. Ketika beberapa karyawan berkumpul, ia merasa mereka sedang memperbincangkan dirinya. Ketika mereka tertawa, ia merasa mereka menertawakan dirinya dan menjadikannya bahan lelucon.

Kebiasaannya membuka e-mail, membaca kesan-kesan lucu atau artikel mengandung hikmah yang dikirim teman-temannya, kini sudah ditinggalkannya. Padahal dahulu, begitu tiba di kantor, tugas pertamanya justeru membuka e-mail dan membalas cerita-cerita lucu dari teman-temannya. Bahkan, terkadang dia sendiri yang mengirim artikel-artikel ke teman-temannya.

Teman itu seakan kehilangan dirinya namun dia tidak paham apa yang terjadi pada dirinya. Ruang kerjanya juga sepi dari lagu-lagu cinta Everly Brothers, yang selama ini selalu diputar di komputernya. Permintaan berteman di Facebook, tidak lagi dipedulikannya. Dia tak mau terhubung dengan teman-temannya, karena dia kecewa seorang sahabat mengirim potongan puisi Jalaluddin Rumi:

Mari kita tinggalkan kekanak-kanakkan
dan menuju ke kelompok Manusia.

Sahabat yang mengirim catatan di facebook itu, sesungguhnya tidak bermaksud menyindirnya dan tidak pernah tahu situasi hati sahabatnya itu saat ini. Namun dia merasa tersindir dan karena itu dia marah sekali. Dia membalas catatan itu: Apa kamu pikir saya kekanak-kanakkan dan bukan manusia?!

Bukan puisi Rumi itu yang membuatnya marah, melainkan hatinya sedang galau dan merasa serba salah. Dalam situasi seperti itu, kata-kata bijak pun bisa dianggap sebagai penghinaan. Senyum tulus dianggap sebagai ejekan. Sebaliknya, racun yang disajikan dengan cawan pujian, bisa dianggap sebagai hadiah tak terkira. Ada saatnya, orang kehilangan pegangan dan terseret ke tempat yang menurutnya indah, namun sesungguhnya jebakan. Dan, dia menikmatinya; seperti aktor dalam gemuruh tepuk tangan.

Seorang pemimpin ?di perusahaan, bahkan RT sekali pun ?ada kalanya terjebak dalam kesepian. Dia merasa telah melakukan banyak hal untuk kebaikan bersama, banyak prestasi, namun kritik tak pernah berhenti. Dia merasa telah mencurahkan semua kemampuan, waktu, dan perasaan, namun tetap saja dianggap tidak cukup.

Pada saat-saat seperti itu ? tekanan perasaan dan merasa tak diapresiasi? para pemimpin memerlukan air bagi dahaganya. Air itu adalah pujian. Dia merasa lebih berarti dalam rimbun pujian, meski itu racun dan memabukkan. Dia lebih suka dan bahkan sangat percaya kepada orang-orang yang memujinya. Dia kehilangan rasionalitas; dan menganggap orang yang mengkritik adalah musuh nyata yang harus disingkirkan.

Dia seperti minum air laut, dia haus terus menerus. Berhentilah meminum air laut pujian, kembalilah ke bumi, dan baca berkali-kali sampai masuk ke jiwa terdalam: Alhamdulilllah, segala puji hanya untuk Allah ...., tidak untuk manusia, siapa pun dia.

Wahai sahabat yang kesepian, cawan pujian itu indah, terbuat dari emas dan permata, tapi di dalamnya racun. Ketika diteguk, racun itu masuk ke dalam sumsum, memecah semua pergelangan, dada, dan pikiran. Seindah apapun cawan itu, tidak lagi berarti apa-apa, ketika isinya kau teguk. Berhentilah melayang karena pujian, turunlah ke bumi nyata. Percayalah pada kehendak Allah, bukan kepada pawang dan peramal yang hidup dari gelembung asap yang mudah sekali menguap.

Wahai sahabat, senyum dan sapa kembali semua teman-temanmu yang tidak pernah minta apa-apa, bukan para penjilat, yang pandai memotong lidah dan telinga. Tenangkan dirimu, seperti mata bayi yang teduh dan tak menyimpan sakwasangka. Kini, lupakan angka-angka karena ia berubah mengikuti sifat dan penghitungnya. Lupakan semua pujian karena ia racun dalam cawan yang indah. Bacalah sebanyak kau bisa dan masukkan ke dalam jiwamu sekuat kau bisa: Alhamdulillah ?segala pujian hanya untuk Allah!



Bukan Surga, Bukan Neraka
By Haikal Abram

 Di sekitar kita, tidak jarang kita melihat orang berkomat-kamit setelah mengikuti ceramah di surau atau masjid, mengomentari isi ceramah atau khutbah yang isinya hanya menakut-nakuti jamaah dengan neraka dan menghibur dengan surga. Ceramah atau khutbah selama ini hanya berputar-putar di sekitar masalah itu saja. Karena seringnya ceramah yang monoton itu, tidak heran bila ada yang bertanya: Apakah dalam Islam tidak terdapat ajaran lain yang perlu dikemukakan selain surga dan neraka? Tujuan hidup pada akhirnya memang ke sana, namun Islam mengandung ajaran yang lengkap, meliputi segala aspek kehidupan, dunia dan akhirat.

Di antara sekian ragam ajaran Islam yang terpenting adalah ajaran tentang bagaimana mencintai Allah. Mencintai Allah tidak cukup dilakukan hanya dengan menjalankan syariat Islam (fikih), namun lebih daripada itu, harus pula dengan menyucikan hati (tasawuf). Fikih memusatkan perhatian pada sah tidaknya suatu amal perbuatan, serta pahala atau hukuman yang ditimbulkan. Sedangkan tasawuf memusatkan pada gerak-gerik hati dan kedekatan hubungan dengan Allah.

Berbeda dengan fikih, menjalankan tasawuf biasanya lebih diliputi dengan berbagai macam ujian, dari yang paling ringan sampai yang terberat. Yang ringan, misalnya, kesediaan untuk menolong binatang yang kehausan dengan memberikan air minum atau yang terberat misalnya kerelaan untuk mengorbankan jiwa dan segala milik kita. Ujian tersebut berfungsi untuk menempa atau mengukuhkan keimanan, dan selanjutnya menentukan peringkat derajat (maqom) sang sufi itu. Allah berfirman: Apakah mereka mengira bahwa mereka akan dibiarkan saja mengatakan 'kami telah beriman' sedang mereka tak diuji? (QS 29:2).

Selain memiliki fungsi peneguhan keimanan, ujian juga berfungsi sebagai sarana bagi manusia agar tidak terbuai oleh 'kemilau' dunia yang sesungguhnya hanyalah fatamorgana. Orang yang beriman diingatkan bahwa hakikat kebahagiaan bukanlah kelimpahan nikmat duniawi belaka melainkan kenikmatan menempuh jalan 'mendaki' menuju Allah untuk suatu perjumpaan dengan-Nya. Ini secara terminologis disebut tasawuf. Tasawuf adalah jalan menuju pertemuan dengan Allah, yang substansinya mencintai Allah (mahabbah ilallah).

Mencintai Allah bukan sesuatu yang 'eksklusif', yang hanya bisa dilakukan oleh alim ulama. Jika ada kemauan, siapa pun bisa mencintai Allah. Mengapa kita enggan mencintai Allah sedangkan Allah saja mencintai kita? Allah berfirman: Kasih sayang-Ku meliputi segala sesuatu (QS 7:15). Allah menempuh berbagai cara dalam menunjukkan kasih sayang-Nya, di antaranya dengan memberikan teguran-teguran halus ataupun dengan mengaruniai kenikmatan yang melimpah, sebagaimana dinyatakan oleh sebuah ayat: Jika engkau hitung nikmat Allah, pastilah engkau tak sanggup menghitungnya (QS 8:29). Begitu sayang dan pemurah Allah kepada hamba-Nya. Maka, pantaslah kiranya Rasulullah pernah bersabda: Kamu belum beriman sebelum Allah dan Rasul-Nya lebih kamu cintai daripada selain keduanya.

Apabila kita sudah sampai pada pemahaman dan prilaku mencintai Allah sedemikian rupa, maka bukan neraka lagi yang menakutkan kita dan bukan pula surga yang menjadi impian indah kita.


Pelebur Dosa

Di tengah kerumunan murid-muridnya, seorang sufi terisak menangis. Ia pedih melihat kenyataan hidup yang mulai semrawut. Antara halal dan haram mulai berbaur tidak jelas. ''Dosa-dosa sedang merata di mana-mana, ibarat air hujan yang turun deras dari langit, lalu tumpah di muka bumi. Tak seorang pun bisa mengelak dari kungkungan dosa-dosa itu, tak terkecuali orang saleh sekali pun,'' demikian paparnya.

Seorang murid bertanya, ''Lalu apa jalan keluarnya, wahai Guru?'' ''Perbanyaklah mukaffarat al-dzunub (pelebur dosa)!'' jawab sang guru singkat. Umumnya ulama membagi dosa menjadi dua: dosa besar (kaba-ir) dan dosa kecil (shaga-ir).

Dosa apapun, besar atau kecil, akan menumpulkan hati, sehingga pelakunya makin jauh dari sisi Tuhan dan terseret ke dalam murka-Nya. Memang setiap anak Adam berpotensi pendosa (khattha'). Tetapi sebaik-baik pendosa adalah yang mau tobat (tawwab). Demikian penjelasan oleh Nabi SAW.

Allah yang Maha Penyayang telah membentangkan jalan-jalan bagi penghapusan dosa. Dosa besar -- sepanjang tidak menyangkut hak-hak sesama manusia -- akan diampuni dengan syarat tobat. Seperti disabdakan Nabi SAW, ''Andaikan dosa-dosa seseorang menumpuk setinggi langit, lalu ia bertobat kepada Allah, niscaya akan diterima tobatnya.'' Malaikat pencatat amal konon dibuat lupa di hadapan Allah akan dosa-dosa orang yang bertobat.

Nabi Muhammad SAW memberi contoh bagaimana sebuah tindakan kebaikan dapat mengikis dosa. Beliau bertanya kepada para sahabatnya, ''Jika ada sungai mengalir di muka rumah, lalu penghuninya mandi lima kali sehari, masihkah tersisa sedikit kotoran dari tubuhnya?''

Mereka menjawab, ''Tak akan ada sedikit pun.'' Lalu kata Nabi SAW, ''Pula salat lima waktu dapat menghapus dosa-dosa.'' Sebagaimana salat lima waktu, salat Jumat ke Jumat dan puasa Ramadhan ke Ramadhan berikutnya, adalah pelebur dosa-dosa yang timbul antara keduanya. Apalagi bila selama Ramadhan, si hamba meramaikannya dengan salat, tadarus, dan sedekah.

Dengan lunturnya dosa-dosa itu, sebagai hasil positif puasa Ramadhan, fajar baru mesti menyingsing. Kita terlahir kembali sebagai 'manusia baru', yakni makhluk yang telah menghiaskan dirinya dengan sifat-sifat Tuhan Sang Mahamulia: adil, pemurah, penyayang, penegak kebenaran, dan seterusnya. ahi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar